Digelar Tiap Tahun, Sejarah Bumi Reog Berdzikir di Ponorogo Ternyata Begini

Aswajanews – Pada tahun 2017 silam, Kabupaten Ponorogo dilanda bencana longsor besar di Desa Banaran, Kecamatan Pulung yang membuat puluhan warga menjadi korban dan ratusan jiwa lainnya terpaksa dipindah permanen karena kontur tanah dan kondisi alam yang sudah tidak aman lagi untuk ditinggali. Atas kejadian itu, sejumlah pendekar PSHT Ponorogo berinsiatif untuk membuat kegiatan religi untuk mendoakan para korban dan keselamatan Ponorogo di masa mendatang.

Kejadian tersebut menjadi duka mendalam bagi seluruh warga Bumi Reog, bantuan demi bantuan terus berdatangan dan ucapan duka cita serta simpati terus mengalir setiap hari. Dari kejadian tersebut, salah satu organisasi pencak silat di Ponorogo turut menyalurkan rasa simpatinya dengan menggelar doa dan dzikir berskala besar di Alun-alun setempat.

Seperti yang diceritakan mantan Kapolres Ponorogo, Kombes Pol. Suryo Sudarmadi yang kini menjabat Komandan Satuan (Dansat) Brimob Polda Jatim. Saat dihubungi, dia mengungkapkan bahwa semangat awal digelarnya Bumi Reog Berdzikir (BRB) adalah solidaritas warga PSHT atas musibah yang menimpa masyarakat di Desa Banaran, Kecamatan Pulung.

“Dulu, kami berkaca pada suksesnya gelaran Suran Agung Persaudaraan Setia Hati PSHW (PSHW) yang terpaksa menggelar acara di Ponorogo karena kondusifitas Madiun saat itu yang tidak memadai. Setelah sukses digelar, lantas saya terinspirasi dan langsung menghubungi ketua IPSI dan PSHT setempat untuk menggelar semacam acara,” ujarnya melalui sambungan telepon, Sabtu (27/12/2025).

Suryo Sudarmadi, yang juga seorang warga PSHT lantas mengusulkan untuk mengadakan sebuah acara religi yang dipusatkan pada lapangan Alun-alun Ponorogo. Kata dia, ide itu muncul atas rasa solidaritas dan kemanusiaan karena Ponorogo sedang dilanda bencana besar.

Setelah ide itu disampaikan kepada ketua IPSI dan Cabang PSHT Ponorogo, ide itu disambut baik dan segera direalisasikan dengan antusias para warga dan siswa PSHT yang membludak.

Pada tahun pertama, dia memperkirakan ada 20.000 orang yang datang memadati Alun-alun Ponorogo untuk memanjatkan doa bersama untuk keselamatan dan keamanan seluruh masyarakat Kabupaten Ponorogo pada umumnya dan PSHT pada khususnya.

“Yang menamakan kegiatan itu sebagai ‘Bumi Reog Berdzikir’ itu ketua cabang PSHT kala itu yang bernama Mas Budi. Respon Pemkab setempat juga baik, bahkan Bupati yang menjabat kala itu juga hadir langsung,” jelasnya.

Tahun berikutnya, jumlah peserta BRB terus mengalami peningkatan. Pada 2018, Suryo memperkirakan jumlah peserta BRB yang sengaja digelar setiap akhir tahun itu mencapai 45.000 orang. Namun, acara yang seakan sudah menjadi agenda wajib PSHT Cabang Ponorogo itu harus dihentikan sementara pada tahun 2019 karena wabah Covid-19 menyerang.

Meski demikian, waktu membuktikan bahwa loyalitas dan militansi warga dan siswa PSHT sangat tinggi. Pada tahun 2020, acara itu kembali digelar dengan peserta yang mencapai 60.000 orang. Namun, tentang tahun 2021 hingga 2023 kegiatan terpaksa dihentikan lagi karena keadaan yang belum memadai.

Tahun 2024, kegiatan yang semakin dikenal banyak orang itu mengalami penambahan peserta yang demikian besar. Suryo mengungkap, jumlah para Kadang (saudara) PSHT yang menyempatkan datang ke Alun-alun Ponorogo telah menembus 100.000 peserta.

“Alasan kenapa kok digelar setiap penghujung tahun tentu tidak lepas dari niat mendoakan keselamatan warga Ponorogo dan sekitarnya. Yang kebetulan waktu pertama kali pelaksanaanya ada bencana tanah longsor,” ungkapnya.

Dengan digelarnya kembali Bumi Reog Berdzikir (BRB) pada 28 Desember 2025 besok. Dansat Brimob Polda Jatim tersebut berharap kegiatan tahunan yang memiliki niat baik tersebut tidak ditunggangi kepentingan apapun dan tetap pada semangat awal munculnya ide kegiatan religi tersebut.

Dalam pelaksanaannya, BRB Ponorogo telah menorehkan hasil positif di kancah nasional maupun internasional. Tahun 2018 silam, Lembaga Prestasi Indonesia dan Dunia (Lepdrid) memberikan apresiasi terhadap gerak kolosal silat bersama dan peserta dzikir terbanyak kepada PSHT Cabang Ponorogo sebagai pelaksana kegiatan Bumi Reog Berdzikir.

“Saat pertama kali dilaksanakan, BRB ini berjalan dengan aman dan tertib. Saya sebagai salah satu pemrakarsa berharap kegiatan ini jangan dipelintir maupun dibawa ke ranah lain karena ini kegiatan doa bersama yang dilakukan oleh kadang (saudara) PSHT, demi mendapatkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa, supaya terbebas dari semua bahaya, seperti bencana alam, terlebih saat ini di Pulau Sumatra lagi tertimpa bencana alam,” harap dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Penguatan IHSG Menduduki Rekor Tertinggi Simak Beberapa Peran Penting Danantara