Oleh: Ayik Heriansyah
Pengurus Lembaga Dakwah PWNU Jawa Barat
Menjadi pejabat negara itu bukan perbuatan dosa. Bisa jadi ladang pahala asal niatnya lurus untuk melayani, mengayomi, dan mengabdi kepada rakyat.
Jabatan adalah amanah konstitusional, bukan warisan keluarga. Jabatan bukan tempat untuk memperjuangkan kepentingan pribadi. Ia bukan milik golongan, mazhab, tarekat, partai, atau ormas tertentu.
Karena itu, pejabat negara wajib tunduk pada konstitusi yang berorientasi kepada kesejahteraan bersama. Bukan pada selera pribadi dan keluarga. Negara punya landasan ideal dan tujuan nasional yang menjadi pedoman.
Kebijakan publik dinilai dari kesesuaiannya dengan konstitusi dan tercapainya kesejahteraan rakyat, bukan dari seberapa besar keuntungan yang bisa dikantongi oleh pejabat dan kroninya. Kalau pejabat mulai menjadikan jabatan sebagai ladang bisnis atau alat balas dendam, maka rusaklah tatanan.
Sayangnya, realitas tak selalu seindah idealisme. Ada saja pejabat yang rakus, yang menjadikan kursi kekuasaan sebagai alat untuk mengeruk anggaran sebanyak-banyaknya. Tak peduli bagaimana kondisi rakyat, yang penting untung.
Motif mereka bukan pengabdian, tapi kecemburuan terhadap harta orang lain dan kerakusan terhadap anggaran. Hati mereka gelap, karena terbiasa menebar kebencian. Mereka memprovokasi rakyat agar membenci pemerintah, demi kepentingan pribadi. Tamak terhadap anggaran.
Mereka ingin menguasai porsi anggaran sebanyak mungkin, bahkan dengan cara-cara yang licik. Ada pula yang memanipulasi citra religius. Mereka berdandan dan berbicara layaknya orang saleh, hanya demi simpati publik. Padahal niatnya jauh dari ketulusan.
Syaikh Ibnu ‘Atha’illah pernah berkata: “Cabang-cabang kehinaan tidak akan tumbuh menjulang, kecuali di atas benih tamak.” Syaikh Zarruq menambahkan: “Siapa yang memelihara tamak, maka kehinaannya akan tumbuh panjang dan dalam.” Dan Syaikh Abul Abbas al-Mursi menyindir dengan tajam: “Tamak terdiri dari huruf-huruf yang keluar dari mulut dan berakhir di perut. Maka orang yang tamak tak akan pernah kenyang. Ia kering, dan segala yang bersamanya pun ikut kering.”
Yang lebih menyedihkan, pejabat tamak kadang membawa-bawa simbol agama. Mereka mencatut nama Tuhan untuk membungkus ambisi pribadi. Akibatnya, bukan hanya negara yang rusak agama pun ikut tercoreng. Masyarakat awam jadi bingung, bahkan kehilangan kepercayaan.
Semoga Allah SWT menjaga negeri ini dari tangan-tangan yang rakus dan mengarahkan para pemimpin kita menuju sifat qana’ah, wara’, dan zuhud yang mampu menahan diri dari yang bukan haknya. Karena negara yang baik lahir dari pejabat yang jujur, bukan dari mereka yang tamak terhadap anggaran negara yang pada hakikatnya adalah uang rakyat.